Langsung ke konten utama

Postingan

Perasaan Menjadi anak broken home ? ( Part 2 )

    Sampai Menginjakan kaki di kelas 12 SMK, Ujian sekolah makin dekat. Seminar pun semakin banyak. Karena aku merupakan siswi yang aktif di sekolah berbagai seminar pun aku ikut. Pernah ada satu seminar di dalam seminarnya itu kayak ada semacam motivasi buat diri sendiri kalau setelah lulus sekolah SMP mau seperti apa. Nah hal yang di fikirkan saat itu " Aku memasuki sebuah gerbang, memakai jas almamater, menggendong tas, dan yeah aku membayangkan bahwa diri ini kuliah". Setelah salesai seminar teman di sebelahku tanya " Kamu memikirkan apa tadi untuk masa depanmu?" Aku menjawab, aku memikirkan kuliah. hehe. tapi kayaknya mustahil banget deh, aku aja sekolah SMK di biayain ibu sampai ibu harus banting tulang untukku. Rasanya tidak sampai hati kalau aku melanjutkan pendidikan dengan biaya dari ibu.     Hati ini rasanya semakin baik. Aku yang dulu biasanya hanya bisa marah-marah karena keadaan, sekarang aku bisa lebih sabar dan lebih menerima keadaan. Aku mu...
Postingan terbaru

Perasaan Menjadi anak broken home ? ( Part 1 )

    Seperti yang di ceritakan di part sebelumnya, cara pandang aku tentang anak broken home itu berbeda dari yang sebelumnya.     Okey, aku kadang iri liat teman-teman yang lengkap dengan ibu bapanya di rumah. atau ketika mereka cerita main bareng dengan keluarganya yang lengkap itu. Aku paling bisa mengulas senyum, dan memberi tanggapan hebat kepada mereka walau hati ini kayak teriris tapi gatau sama apa.     Bukan hanya sampai itu saja irinya, kadang dalam acara sekolah rapat orangtua atau liburan sekolah. Mereka bersama kedua orangtuanya tentunya, sedangkan aku pasti di gantikan oleh bibi karena ibu sibuk bekerja dan ayah jauh disana. Kalo di ceritakan pasti banyak irinya.     Tapi pas sekolah SMK aku jadi sangat bersyukur, kenapa? Ya karena aku hidup berdua dengan ibu yang sangat amat menyayangiku hingga aku bisa melanjutkan sekolah ke SMK ya berkat perjuangan ibuku. Mungkin jika ayah dan ibuku masih bersatu aku ga akan jad...

Menjadi Anak Broken Home? (Part 3)

    Memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP) aku yang biasa-biasa ini saat di SD menjadi lumayan luar biasa, hehe. pasalnya pas di SD palingan aku dapat rangking 3 atau 4, pernah rangking 2 itu pun hanya 1 semester kalo tidak salah. Nah, pas SMP ini nih aku mulai sangat rajin, rajin baca buku di perpustakaan sekolah, atau baca buku di perpustakaan desa. Dan sampai akhirnya, aku bisa rangking 1, dan jeng jeng aku masuk 10 besar ranking di satu angkatanku. Ibuku bangga? pasti bangga dong. anaknya yang satu-satunya ini bisa mencapai pencapaian itu.     Aku juga punya 3 sahabat pas sekolah SMP namanya Nur Agnia Putri Jauhari, Lisna Verawati Fajrin, dan Dini Nurhapidah. Sampai aku menulis blog ini, aku rasa mereka lah yang paling care sama hidupku. Kita selalu sharing segala hal, mereka juga selalu ngingetin aku segala hal bahkan hal yang sepele. Akh, I miss u so much my best friend. Oh ya, aku juga punya 2 sahabat tambahan pas kelas 3 SMP. namanya Fikry Dwi Anja...

Menjadi Anak Broken Home? (Part 2)

      Menginjak Usia Sekolah Dasar (SD) Ibuku pulang dari Negeri Jiran. Aku sangat bahagia ibuku pulang pada saat itu. Tapi entah mengapa dan kenapa, ibuku jadi berbeda. Pertama aku ketemu beliau, dia malah bertanya ke bibi "Si neng kurus banget, apa ga di kasih makan selama aku disana". Perasaan aku, aku sama seperti teman-teman ku yang lain. Apa aku tekanan batin? Entahlah anak se-usia segitu mana tau dia tekanan batin atau engga.      Hari-hariku berikutnya aku bersama ibuku terus. Ibuku membangun sebuah rumah di belakang rumah bibi. Semenjak hari itu aku selalu bersama ibuku, Kata Ibu mendingan punya rumah sendiri, walaupun kecil ya itu rumah kita. Mau itu berantakan kayak kapal pecah atau rapih se rapih-rapihnya, enakan di rumah sendiri.      Ibuku sering cerita kalo di Negeri Jiran sana dia menjaga 3 orang anak dari majikannya. Dan aku selalu di banding-bandingkan dengan mereka. Entahlah, ibuku menjadi sangat keras kalau ...

Menjadi Anak Broken Home? (Part 1)

      Entah di umur ke berapa aku menyadari bahwa aku anak broken home. Yang aku dengar cerita dari ibuku bahwa ayahku telah meninggalkan kita pada saat aku berumur 8 bulan sejak di lahirkan ibu. Aku juga masih bingung dulu, ayah dan ibuku tidak tinggal serumah seperti kebanyakan orangtua dari teman-temanku. Ibu selalu bilang, aku boleh ketemu ayah kapan pun. Ibuku tidak pernah melarang aku untuk bertemu ayah, begitupun sebaliknya. Mungkin ibu bingung menjelaskan kepada anak umur satuan tahun menjelaskan tentang rumit dan peliknya rumah tangga mereka.      Aku bisa bertemu ayah setiap minggu, atau setiap hari pun aku bisa. Aku tinggal duduk di tempat pemberhentian angkutan umum, atau aku tinggal jalan kaki ke terminal angkutan di daerahku. Iya betul, ayahku seorang supir angkutan umum. Dia bekerja setiap hari dan lewat ke rumahku setiap harinya, jadi aku bebas bertemu ayah kapanpun.      Ibuku tidak pernah banyak cerita tentang...

Pandemi

    Sudah setahun lebih pandemi berlalu, kita masih saja was-was dengan semua berita yang datang. Dari mulai berita teman dekat, teman jauh, bahkan berita yang tersebar luas di semua media sosial.     Aku tak tau kapan ini berakhir, yang aku harapkan segera berakhir. Agar semuanya kembali normal seperti biasa. Pandemi yang kedua ini sangat lebih menakutkan dari pandemi yang pertama. Berangkat dan pulang kerja penuh ke was-was an di dalam hati ini. Doaku semoga anak cucu ku kelak tidak mengalami masa seperti ini. Dimana banyak orang yang kehilangan pekerjaan, banyak orang yang susah mencari penghasilan, banyak orang rebutan fasilitas kesehatan, banyak orang yang tidak tau dan mau bagaimana melanjutkan hidup ini.     Saat ini atau nanti menjaga kesehatan adalah investasi untuk diri sendiri yang paling utama. Pola makan harus dijaga, olahraga harus terus di lakukan. Yaa, walau tak bisa jalan atau liburan kemana-mana. Fikiran harus tetap jernih. ...

Rasanya menikah dengan anak laki-laki pertama di keluarga bagaimana?

          Menikah itu perkara yang berbeda dengan cinta. Jika kamu mencintai seseorang lalu kamu menikah dengannya itu kebahagiaan untukmu, tapi jika kamu menikah dahulu lalu mencintainya itu kebahagiaan yang sesungguhnya.           Kalau di tanya rasanya menikah dengan laki-laki pertama di keluarganya itu sangat luar biasa. Aku yang terlahir sebagai anak tunggal, yang tidak pernah merasa menjadi kaka yang available untuk adik. Setelah menikah dengan anak laki-laki pertama ini, aku jadi merasakan jadi kaka yg available. Apalagi kalau adiknya tidak hanya satu, suamiku anak kedua dari enam bersaudara. Karena kaka suami itu perempuan, otomatis yang harus available setiap saat itu ya suami.          Kayaknya ini bahu makin kuat aja menikah dengan laki-laki pertama di keluarganya. Aku tidak pernah melarang suamiku untuk terus berbakti kepada keluarganya, karena yaa aku yakin nanti bakalan dapet hik...