Sampai Menginjakan kaki di kelas 12 SMK, Ujian sekolah makin dekat. Seminar pun semakin banyak. Karena aku merupakan siswi yang aktif di sekolah berbagai seminar pun aku ikut. Pernah ada satu seminar di dalam seminarnya itu kayak ada semacam motivasi buat diri sendiri kalau setelah lulus sekolah SMP mau seperti apa. Nah hal yang di fikirkan saat itu " Aku memasuki sebuah gerbang, memakai jas almamater, menggendong tas, dan yeah aku membayangkan bahwa diri ini kuliah". Setelah salesai seminar teman di sebelahku tanya " Kamu memikirkan apa tadi untuk masa depanmu?" Aku menjawab, aku memikirkan kuliah. hehe. tapi kayaknya mustahil banget deh, aku aja sekolah SMK di biayain ibu sampai ibu harus banting tulang untukku. Rasanya tidak sampai hati kalau aku melanjutkan pendidikan dengan biaya dari ibu. Hati ini rasanya semakin baik. Aku yang dulu biasanya hanya bisa marah-marah karena keadaan, sekarang aku bisa lebih sabar dan lebih menerima keadaan. Aku mu...
Seperti yang di ceritakan di part sebelumnya, cara pandang aku tentang anak broken home itu berbeda dari yang sebelumnya. Okey, aku kadang iri liat teman-teman yang lengkap dengan ibu bapanya di rumah. atau ketika mereka cerita main bareng dengan keluarganya yang lengkap itu. Aku paling bisa mengulas senyum, dan memberi tanggapan hebat kepada mereka walau hati ini kayak teriris tapi gatau sama apa. Bukan hanya sampai itu saja irinya, kadang dalam acara sekolah rapat orangtua atau liburan sekolah. Mereka bersama kedua orangtuanya tentunya, sedangkan aku pasti di gantikan oleh bibi karena ibu sibuk bekerja dan ayah jauh disana. Kalo di ceritakan pasti banyak irinya. Tapi pas sekolah SMK aku jadi sangat bersyukur, kenapa? Ya karena aku hidup berdua dengan ibu yang sangat amat menyayangiku hingga aku bisa melanjutkan sekolah ke SMK ya berkat perjuangan ibuku. Mungkin jika ayah dan ibuku masih bersatu aku ga akan jad...