Langsung ke konten utama

Menjadi Anak Broken Home? (Part 1)

     Entah di umur ke berapa aku menyadari bahwa aku anak broken home. Yang aku dengar cerita dari ibuku bahwa ayahku telah meninggalkan kita pada saat aku berumur 8 bulan sejak di lahirkan ibu. Aku juga masih bingung dulu, ayah dan ibuku tidak tinggal serumah seperti kebanyakan orangtua dari teman-temanku. Ibu selalu bilang, aku boleh ketemu ayah kapan pun. Ibuku tidak pernah melarang aku untuk bertemu ayah, begitupun sebaliknya. Mungkin ibu bingung menjelaskan kepada anak umur satuan tahun menjelaskan tentang rumit dan peliknya rumah tangga mereka. 

    Aku bisa bertemu ayah setiap minggu, atau setiap hari pun aku bisa. Aku tinggal duduk di tempat pemberhentian angkutan umum, atau aku tinggal jalan kaki ke terminal angkutan di daerahku. Iya betul, ayahku seorang supir angkutan umum. Dia bekerja setiap hari dan lewat ke rumahku setiap harinya, jadi aku bebas bertemu ayah kapanpun. 

    Ibuku tidak pernah banyak cerita tentang ayah, yang dia ceritakan dia ayahku dan beliau ikut bertanggung jawab atas hidupku. 

    Setiap hariku di isi dengan kegiatan anak-anak pada umumnya, belajar, bermain, ya walau lebih banyak bermainnya. Mungkin karena umurku waktu kecil paling kecil dari teteh-teteh dan aa anaknya uwa. Jadi, aku selalu di panggil "Anak Bawang". Itu anak kecil yang suka pengen ikut main sama anak gede, kalo pas bagian jaga dia engga jaga, pokoknya ikut-ikutan aja main.

    Menginjak usia taman kanak-kanak, ibuku pergi merantau ke Negri Jiran (Malaysia) bekerja menjadi Pembantu IRT. Semenjak itu aku di rawat oleh adik-adiknya mamah (Bibi). Tinggal sama bibi ya bisa di bilang enak-enak ga enak, enaknya di manja terus. ya namanya juga anak-anak kan? Ga enaknya, gmna yaa. Ga ada ayah, ga ada ibu. yaa engga kayak temen-temen aku yang lain.

    Sering dapat pertanyaan dari tetangga, atau dari teman bibi gini pertanyaannya. Sedih engga jauh dari ibu sama bapak? Aku jawab, aku baik-baik aja. Aku bisa mendengar suara ibuku di telpon umum setiap satu bulan sekali. Setiap minggu juga bisa ketemu ayah. Hey, ayolah siapa yang tau hancurnya hati umur anak-anak di ajukan pertanyaan seperti itu.

    Setiap minggu aku minta uang ke ayahku 10.000 setiap minggu, dan setiap minggu juga aku ikut ayahku masar (Jualan di Pasar). Jadi setiap minggu ayahku ngangkut orang-orang jualan untuk berjualan di pasar mingguan (Pasar Dadakan). Setiap habis subuh aku sudah duduk di panggkalan tempat ayahku ngangkut-ngangkut barang. Zaman dulu mana ada HP, yang ada aku hanya duduk setiap hari minggu di pasar menunggu ayahku. Setelah semuanya terangkut, barulah aku naik mobil angkutan ayahku dan memulai hari mingguku dengan ikut bersama ayah seharian. Hari minggu bersama ayah yang indah, untuk mengobati rindu kepada ibu yang jauh disana. Terimakasih ayah.

Komentar