Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2021

Menjadi Anak Broken Home? (Part 2)

      Menginjak Usia Sekolah Dasar (SD) Ibuku pulang dari Negeri Jiran. Aku sangat bahagia ibuku pulang pada saat itu. Tapi entah mengapa dan kenapa, ibuku jadi berbeda. Pertama aku ketemu beliau, dia malah bertanya ke bibi "Si neng kurus banget, apa ga di kasih makan selama aku disana". Perasaan aku, aku sama seperti teman-teman ku yang lain. Apa aku tekanan batin? Entahlah anak se-usia segitu mana tau dia tekanan batin atau engga.      Hari-hariku berikutnya aku bersama ibuku terus. Ibuku membangun sebuah rumah di belakang rumah bibi. Semenjak hari itu aku selalu bersama ibuku, Kata Ibu mendingan punya rumah sendiri, walaupun kecil ya itu rumah kita. Mau itu berantakan kayak kapal pecah atau rapih se rapih-rapihnya, enakan di rumah sendiri.      Ibuku sering cerita kalo di Negeri Jiran sana dia menjaga 3 orang anak dari majikannya. Dan aku selalu di banding-bandingkan dengan mereka. Entahlah, ibuku menjadi sangat keras kalau ...

Menjadi Anak Broken Home? (Part 1)

      Entah di umur ke berapa aku menyadari bahwa aku anak broken home. Yang aku dengar cerita dari ibuku bahwa ayahku telah meninggalkan kita pada saat aku berumur 8 bulan sejak di lahirkan ibu. Aku juga masih bingung dulu, ayah dan ibuku tidak tinggal serumah seperti kebanyakan orangtua dari teman-temanku. Ibu selalu bilang, aku boleh ketemu ayah kapan pun. Ibuku tidak pernah melarang aku untuk bertemu ayah, begitupun sebaliknya. Mungkin ibu bingung menjelaskan kepada anak umur satuan tahun menjelaskan tentang rumit dan peliknya rumah tangga mereka.      Aku bisa bertemu ayah setiap minggu, atau setiap hari pun aku bisa. Aku tinggal duduk di tempat pemberhentian angkutan umum, atau aku tinggal jalan kaki ke terminal angkutan di daerahku. Iya betul, ayahku seorang supir angkutan umum. Dia bekerja setiap hari dan lewat ke rumahku setiap harinya, jadi aku bebas bertemu ayah kapanpun.      Ibuku tidak pernah banyak cerita tentang...